Apakah Nilai Diri? sebuah catatan dari teman

Apakah Nilai Diri Anda Lebih Tinggi Dari Uang Seribu Rupiah?

serebu

Hari Baru! rekan-rekan kerja…

Mohon maaf jika judul artikel ini agak mengesalkan anda. Sebab, kita semua tahu bahwa nilai anda jauh lebih tinggi dari sekedar nilai uang seribu rupiah. Tetapi, percayakah anda kalau kita semua perlu sesekali menguji kebenaran premis bahwa; ’nilai kita lebih tinggi dari uang seribu rupiah’ itu? Agak janggal memang. Tapi, sebentar lagi anda akan faham maksud saya. Pertama-tama, ingatlah kembali bahwa nilai selembar uang sangat ditentukan oleh jumlah angka nol yang dimilikinya. Lalu, berhentilah sejenak dari membaca tulisan ini. Dan renungkanlah ini; ”jika nilai uang ditentukan oleh jumlah angka ’0’ yang dimilikinya, maka apa yang menentukan nilai diri kita sebagai manusia?”

Saya bisa mengatakan bahwa uang seribuan itu mewakili kualitas standar yang dipersyaratkan bagi diri kita, supaya perusahaan menganggap kita masih layak untuk dipekerjakan. Perhatikan, uang seribuan memiliki 3 buah angka ’0’ (nol), dimana setiap angka nol itu mewakili satu kualitas penting yang harus dimiliki oleh setiap pekerja.

Angka ’nol’ pertama mewakili apa yang kita sebut sebagai Knowledge, alias ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya, setiap proses rekrutmen mempersyaratkan standar pendidikan tertentu untuk setiap posisi yang akan diisi. Ijazah sedikit banyak memberikan gambaran apakah kita mempunyai standard pengetahuan yang memadai untuk pekerjaan yang kita lamar atau tidak. Jika kita memenuhi syarat pengetahuan yang ditetapkan, kita bisa memasuki tahap selanjutnya.

Angka ’nol’ yang kedua mewakili apa yang kita sebut sebagai Skill, alias keterampilan. Jika kita lulusan sebuah sekolah yang memiliki reputasi tinggi, tetapi skill kita sangat rendah dan kalah jauh dari orang lain yang lulusan sekolah biasa saja, maka nilai kita berada dibawahnya. Sehingga, wajar jika perusahaan lebih memilih orang lain daripada kita. Karena, dengan hanya berbekal Knowledge, nilai kita seperti uang 10 rupiah, sementara teman kita yang memiliki knowledge dan skill sudah memiliki 2 buah ’nol’ sehingga nilainya setara dengan 100 rupiah, alias sepuluh kali lipat nilai kita.

Angka ’0’ ketiga mewakili apa yang kita sebut sebagai Attitude, alias sikap. Cukup banyak yang mengeluhkan sikap orang-orang yang merasa dirinya hebat. Mereka mengira bahwa dengan ijasah dari perguruan tinggi kelas atas bisa menembus segala-galanya. Malah sebaliknya, sikap buruk seringkali menjatuhkan nilai orang-orang cerdas dan berbakat. Artinya, perusahaan sama sekali tidak tertarik kepada orang pintar yang attitude-nya buruk. Oleh karena itu, orang yang attitudenya lebih baik, lebih disukai daripada orang cerdas yang sikapnya buruk. Ibaratnya, sekarang orang pinter ini masih mengoleksi satu angka ’nol’ (knowledge), sementara orang lain sudah mengumpulkan tiga (knowledge, Skill, dan attitude). Jika hal itu terjadi dalam sebuah proses penerimaan karyawan, siapa menurut pendapat anda yang akan mendapatkan kesempatan?

Pertanyaannya kemudian adalah; ”apakah hal itu masih relevan bagi orang-orang yang sudah memiliki pekerjaan seperti kita?” Tentu. Malah lebih penting lagi, karena ini menyangkut 2 hal, yaitu; pertama, bagaimana caranya mempertahankan agar jumlah angka nol kita tidak berkurang, dan kedua, bagaimana caranya menambah angka nol kita?

Memangnya ’angka nol’ kita bisa berkurang? Bisa. Contohnya, berapa banyak karyawan yang pada awalnya, sangat knowledgeable, namun karena malas meningkatkan diri akhirnya pengetahuannya ketinggalan jaman. Berapa banyak karyawan yang pada awalnya, sangat skillful, namun karena enggan mempelajari hal baru akhirnya keterampilannya tidak sesuai lagi dengan tuntutan perusahaan. Berapa banyak karyawan yang pada awalnya, berperilaku sangat baik, namun karena satu atau lain hal akhirnya mereka bertingkah diluar norma sehingga tidak pantas lagi menjadi bagian dari budaya perusahaan? Inilah gambaran dari orang-orang yang ’angka nolnya’ berkurang.

Jika kita kembali kepada setiap angka ’nol yang dimiliki oleh uang seribuan tadi, maka setiap penambahan angka nol, menghasilkan nilai sepuluh kali lipat, dari nilai sebelumnya. Artinya, uang Rp. 100,- (yang memiliki 2 buah angka ’nol’) nilainya sepuluh kali lipat uang Rp.10,- yang hanya memiliki 1 angka nol. Dan uang Rp. 1000,- nilainya sepuluh kali lipat nilai uang Rp. 100,- sebab kita tahu bahwa setiap penambahan satu angka nol menaikkan nilainya sepuluh kali lipat. Oleh sebab itu, jika kepada uang seribu tadi ditambahkan satu lagi angka nol, maka nilainya sudah naik sepuluh kali lipat. Lalu, tambahkan lagi satu angka nol, maka nilainya naik lagi sepuluh kali lipat. Betul demikian?

Lantas, bagaimana caranya menambah angka nol itu? Kita sudah tahu bahwa angka ’0’ pada uang merupakan nilai tambah yang tidak terelakan. Pada manusia, nilai tambah itu setara dengan ’atribut-atribut’ positif yang mewujud pada perilaku, pengetahuan, dan keterampilan kita. Orang yang memiliki perilaku yang baik dan pengetahuan yang luas serta keterampilan yang tinggi tentu nilainya lebih tinggi dari orang lain yang hanya memiliki salah satu dari ketiga aspek itu. Ibaratnya uang yang memiliki satu ’0’ dibandingkan dengan ’000’. Jika ketiga hal diatas ditambah dengan ’kesediaan untuk memberikan pelayanan ekstra’, misalnya; maka nilainya bertambah sepuluh kali lipat karena sekarang angka ’0’ nya menjadi 4. Tambah lagi dengan ’senang membantu orang lain’; naik sepuluh kali lipat lagi nilainya.

Bayangkan jika kita bisa menambah puluhan atribut positif lain kedalam diri kita. Tentu kita bisa menjadi karyawan unggul bernilai sangat tinggi sebagai aset penting bagi perusahaan. Karena, sudah menjadi sifat alamiah kita untuk tertarik kepada seseorang yang memiliki banyak atribut positif didalam dirinya. Ini menegaskan bahwa ’nilai’ seseorang sangat ditentukan oleh kualitas dirinya. Dan kualitas diri kita itu, ditentukan oleh atribut-atribut positif yang kita miliki. Persis seperti uang yang nilainya ditentukan oleh jumlah angka ’0’ yang dimilikinya.

Mari Berbagi Semangat!

Catatan Kaki:

Mungkin kita memiliki keterbatasan untuk menambah angka nol kepada uang kita. Namun, kita bisa menambahkan angka nol kedalam diri kita, dalam jumlah yang nyaris tidak terbatas.

/dikutib dari Dadang Kadarusman,
Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator/

>>>Agustinus Zeno Yonadi<<<

malam minggu tgl. 18 Juli 2009…

Jam menunjukan pukul 20.30malam, saat yang pas untuk bersantai-2 di kasur kesayangan sambil nonton tv. tiba2 aku dipanggil sama bapak2 tetangga ku… dia bilang “mas agus ditunggu di rumah Pak RT untuk pertandingan Catur… langsung aku sanggupi lah… denger kata main catur, selalu membuat aku bersemangat, pikirku itung2 hiburan, lagian entar klo aku ga ikut dikira sombong lagi. apalagi kan lawannya adalah bapak2 di RT ku.. yang mayoritas jago maen catur (kamu masing inget kan 17an agustus 2 tahun lalu pada saat aku maen catur di perempatan deket rumah.. malem itu kamu lihat aku kalah..sama lawan ku.) dan seperti tahun2 sebelumnya di RT ku ada 2 orang “grand master nya yang tiap tahun masuk final terus… Dan mereka bergantian juara I (mananya adalah pak Giarto – ketua RT ku – danPpak Leman – teman ku naik KRL ku hampir setiap hari), jadi yang menurutku yang paling seru adalah perebutan juara III yang penuh kejutan dengan orang2 yang bergantian trus… makanya aku berharap bisa buat kejutan dengan juara III, dengan berbekal pengalaman dua tahun lalu juga aku kalahkan mantan juara III tahun sebelumnya di babak penyisihan.. aku dah seneng, lumayan kan naik panggung 17an di RT ku.

Continue reading

Pengalaman berharga menjadi HRD Manager

Pencuriiii.....

Saya jadi teringat masa-masa ketika menghadapi karyawan yg saya pecat karena mencuri pada waktu saya baru menjabat sepuluh hari di perusahaan tsb. ybs mengatakan “ibu pendatang di sini, nggak sayang nyawa, ya? tidak tahu ya saya asli orang sini yg bisa mengerahkan orang utk mengeroyok ibu ketika pulang kantor nanti…”
thief

Waduh! ngeri juga…tetapi saya berusaha tidak panik dan mengatakan bahwa “saya hanya menjalankan prosedur”. Seandainya saya melakukan hal yg sama dgn yg dilakukannya maka saya juga akan kena sanksi yg sama. sanksi manusia lebih baik daripada sanksi dari Yang Maha Kuasa. saya serahkan seluruh hidup saya hanya kepadaNYA.”

Ybs tetap belum dpt menerima dan secara persuasif saya “mengantarkannya” pulang ditemani dua orang security utk menemui istrinya. ternyata sang istri sedang hamil tua dan membutuhkan banyak biaya. saya mengatakan bahwa saya akan menyampaikan keadaan ini kpd manajemen jika ybs bersedia “keluar dgn baik2″. dan akhirnya permasalahan dpt terselesaikan dgn baik.

Sepuluh tahun kemudian, di perusahaan yg berbeda, saya menghadapi hal yg hampir sama hanya bedanya si karyawan “membawa seseorang dgn sarung pistol di pinggang”. persoalan dpt diselesaikan dgn cara santun juga dan saya katakan kpd orang tsb “saya lebih menghargai dan menghormati anda dan menerima anda di kantor kami jika tanpa pistol di pinggang anda.”

So, jangan pernah takut jika anda benar. tuhan pasti memberkati orang benar dgn cara yg benar dan tujuan yg benar.

Dari Teman di HRM Clubfv farida

Sent by: Agustinus Zeno Yonadi, SH >>> (click here to view his office) <<<

Pekerjaan ataukah Keluarga?

zwani.com myspace graphic comments

Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. “Oh, maafkan saya” adalah reaksi saya.. Ia berkata, “Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda.” Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.. Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. “Minggir,” kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya. Continue reading

“DIA YANG BERSEDIA BELAJAR”

Suatu saat dari ruang kantor sebuah kantor terdengar meeting antara seorang GM HRD dengan para staffnya yang akan melakukan perekrutan karyawan baru.

” Satu syarat yang harus diutamakan adalah pengalaman dan pendidikan, tidak akan bisa seseorang mengerjakan tugas tanpa ia berpengalaman dan berpendidikan”. ujar sang GM HRD.

Pernyataan sang GM tidaklah salah, berdasarkan survey secara statistik diantara 100% lowongan pekerjaan di sebuah harian nasional yang memuat lowongan kerja pada hari Sabtu dan Minggu, maka 93% selalu mempersyaratkan pengalaman dan berpendidikan. Dengan dasar itulah Sang Recruiter yang jebolan universitas ternama turun langsung untuk melakukan wawancara, test untuk menyeleksi calon karyawan baru.
Satu orang yang masuk. Itupun secara Pendidikan memenuhi syarat namun pengalamannya tidak. Nanti ada lagi yang berpengalaman namun pendidikannya tidak memenuhi syarat. Begitu seterusnya hingga wawancara orang yang ke dua ratus lima puluh, tak satupun yang memenuhi syarat untuk posisi itu. Kembalilah Sang Recruiter bertemu Sang GM HRD di ruang kerjanya.

“Saya kira ada yang salah dengan persyaratan jabatan ini”. Kata Sang Recruiter sembari garuk-garuk kepala dengan dahi yang di tekuk sehingga membentuk huruf W….waduh ini mirip dengan grafik Wnya Test Intelegenz Structure Test (IST). “Maaf Pak, yang mana yang salah, semua itukan sesuatu yang standar-standar aja…..Nih lihat dia menunjukkan sebuah surat kabar nasional yang menunjukkan pendidikan dan pengalaman”. Elak Sang GM HRD, sambil menguatkan hasil survey di atas.

Barangkali begini, apakah KPK (Komite Pemberantasan Korupsi) yang akan menangkap koruptor harus terlebih dahulu menjadi koruptor untuk mengetahui modus operandi sang koruptor (apakah temennya median atau standard deviasi). Ataukah seorang pilot harus pernah menjatuhkan pesawatnya untuk bisa mengetahui rahasia, tips dan trick dalam menerbangkan pesawat dengan baik dan tidak mungkin pesawatnya jatuh?…(ya… mungkin sudah alm. duluan), Apakah masinis dan pengatur perjalanan kereta api harus menabrakkan dua buah rangkaian kereta api yang tengah melaju berlawanan untuk mengetahui ilmu manajemen pengaturan kereta api (Waduh sering tabrakan Kreta Api)”? pertanyaan cerdik sang recruitermembuat GM HRDnya ndak berkutik.

“Hmmmmmmmmmm…………..lalu……….?” “Meskipun kita akui pengalaman sebagai hal yang penting. Tetapi bukanlah itu yang terpenting. Pengalaman adalah langkah pertama.
Hal selanjutnya adalah memperhatikan potensi seseorang. Bila seseorang tidak perpengalaman tetapi ia memiliki potensi maka kita harus terima dia”. Ujar sang recruiter.

Sang GM Hening sejenak. “Dalam hidup pun seperti itu. Pengalaman penting. Namun tidak mesti pengalaman diri kita sendiri. Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain. Mengambil pelajaran pengalaman dari orang lain merupakan jalan untuk memperoleh kesuksesan. Jadi, ubah kriterianya menjadi: Dia yang bersedia belajar”. Ujar Sang GM HRD

From :
Zeno Yonadi
HR Development
PT Harita Prima Abadi Mineral
Kantor Pusat Jakarta

Gak Narsis Gak Exist…

Agustinus Zeno Yonadi

zwani.com myspace graphic comments

Gak Narsis Gak Eksis

This morning someone’s ringing my bell by sending sms to me “Sebetulnya gw juga bukan kaum narsis. Tapi gw pikir2 lagi, gak narsis gak eksis, hahaha”. Itu sms datangnya dari kawan karib, temen maen di SMP & SMA. Kok gw tiba2 merasa “ketonjok” banget dengan kata2nya. Sembari menarik nafas panjang, on the way to office in my lovely buss, I said to my self “udahlah.. saya jangan resistan.” Continue reading