Bagaimana Kita Menyikapi Gerai-gerai Fastfood?

Oleh: Mugiwara No Nakama

Tak dapat dipungkiri saat ini, di dunia Islam, masyarakat muslim sudah banyak yang mengonsumsi ayam-ayamnya KFC, dan gerai-gerai Fastfood lainnya. Namun, setiap muslim juga tidak akan mengonsumsinya jika logo halal tidak tercantum di produk KFC, McD, CFC, dll.
fast foood
Saat ini, demi merebut pangsa pasar kaum muslim, banyak gerai-gerai makanan cepat saji di dunia barat dan dunia Islam yang mencantumkan logo halal di setiap produknya. Bahkan, lantaran hal ini, warga Barat, penduduk setempat yang non-Islam berdemo menentang pencantuman logo halal tersebut. Kenapa mereka menentang, karena bagi Barat tak ada tempat untuk Islam. Sebuah stigmatisasi yang telah berhasil mempengaruhi sebahagian banyak pola pikir masyarakatnya.

Gerai-gerai Fastfood ini, sudah lama beroperasi di dunia Islam, pangsa pasarnya sudah gak bisa diragukan lagi. Dan, khusus di dunia Islam dan dunia ketiga, promosi yang dilakukan mereka gila-gilaan. Para pemudanya merasa gaul jika makan disana, padahal sebaliknya, di dunia barat sendiri, Fastfood tak lebih dari makanan murahan yang menjadi konsumsi rakyat miskin.

Dan, seperti kita ketahui juga bersama, jika gerai-gerai makanan fastfood ini sering kali mendonorkan uang hasil penjualannya kepada Israel. Lantas, jika sudah seperti ini bagaimana kita bertindak, tetap mengonsumsi makanan tersebut ataukah berhenti mengonsumsinya?

Ada banyak hal yang menjadi alasan banyak orang terkait masalah ini. Ada yang membolehkannya. Ada juga yang tetap bersikukuh untuk tidak mengonsumsinya melalui jalan pemboikotan produknya tersebut.

Bagi saya pribadi, saya gak terlalu mempermasalahkannya. Ada banyak alasan yang dapat diajukan. Sejatinya, keberadaan gerai-gerai fastfood ini telah asli made in lokal. Namanya saja yang internasional. Yang saya ketahui, kebanyakan dari gerai-gerai ini hanya membeli lisensi namanya saja. Bahan-bahan makanan yang ada di dalamnya nyaris lokal semuanya, seperti ayamnya. Jadi, tak perlu takut karena sudah jelas kehalalannya.

Terkait masalah boikot memboikot. Saya sendiri sedikit kurang setuju karena apa mau dikata, seluruh produk utama yang kita konsumsi saat ini rata-rata adalah milik perusahaan-perusahaan pendukung nomor wahid zionisme. Jika dilakukan secara individu rasanya tidaklah cukup, butuh sebuah institusi dan itu hanyalah ada pada sebuah Negara. Negara lah yang berhak dan dapat melakukan gerakan boikot secara maksimal. Jadi, gerakan boikot secara individu maupun lembaga/organisasi hanya akan membuang-buang tenaga, toh, masih banyak orang-orang diluaran sana yang masih membeli produk-produk kaum penjajah ini, bukankah begitu teman-teman? Coba deh dipikirkan lagi baik-baik.

Lantas, bagaimana tanggapan teman-teman fesbuker terkait masalah ini? silahkan tuangkan uneg-unegnya disini. Saya tunggu lho…. ^ ^

Dan, jika diperlukan silahkan di share ke jejaring sosial lainnya (twitter, kaskus, dll), yang teman-teman ikut berpartisipasi di dalamnya….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s