Memahami Qadha dan Qadar

“Telah kami tunjukkan padanya dua jalan hidup (baik dan buruk)” (QS. Al-Balad:10)

“Maka Allah mengilhamkan pada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (QS. As-Syams:8)

“Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Kemudian beliau ditanya lagi: Jadi untuk apa orang-orang harus beramal? Rasulullah saw. menjawab: Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya.” (Shahih Muslim No.4789)

Sering orang salah mengartikan iman pada qada’ dan qadar. Sebagian menafsirkan secara keliru, sehingga dia menjalani kehidupan secara pasrah. Bahkan aliran ekstrim dalam qada’ dan qadar ini meyakini bahwa maksiatnya atau taatnya seorang hamba itu sudah menjadi ketentuan, dan manusia didunia ini menjalankan aktivitasnya dengan dipaksa. Artinya menurut aliran ini manusia masuk surge atau neraka itu sudah merupakan ketetapan yang manusia itu tak adapat mengubahnya.

Sementara aliran lain, yang merupakan anti pati dari aliran ini meyakini bahwa seluruh yang terjadi di dunia ini adalah atas kehgendak manusia. Tak ada campur tangan Allah di dalamnya. Manusia bebas melakukan apa saja, dan dia nanti akan bertanggung jawab atas perbuatannya.

Sekilas paham yang kedua lebih masuk akal, namun tidak 100% benar. Jika kita melihat fakta yang terjadi, manusia itu ada dalam 2 area. Yaitu area yang dikuasainya, dan area yang menguasainya. Area yang dikuasainy adalah area pilihan yang dia bisa menentukan mana yang hendak dipilih. Selama ia mempunyai pilihan maka itu masuk pada area yang dikuasainya.

Sedangkan area kedua, yaitu are yang menguasainya. Artinya dalam kondisi seperti ini, manusia tidak memiliki pilihan. Kejadiannya diluar batas kemampuan manusia. Area ini bisa saja berbentuk sunnatullah maupun yang bukan sunnatullah tapi tetap diluar batas kemampuan manusia. Sunnatullah seperti manusia mati dan lahir, tidak bisa terbang atau berjalan diatas air, dll.

Adapun yang bukan sunnatullah namun tetap berada pada area yang menguasainya, yaitu ketika perbuatan manusia yang menghakibatkan sesuatu yang diluar kemampuan manusia. Seperti seorang yang hendak menembak burungt, namun mengenai manusia. Atau ketika mengendarai motor secara hati-hati namun tetap tertabrak oleh orang lain, dan kejadian sejenisnya. Hal ini juga masuk dalam area ini.Nah, kejadian yang menguasai manusia inilah yang disebut qada’ (ketetapan). Manusia tidak akan pernah lepas dari yang namanya qada’, sebab yang berperan disini hanyalah Allah. Qada’ inilah yang menyebabkan manusia tidak akan mungkin dapat keluar dari area yang dikuasainya, dan manusia terbatas hanya pada itu saja.

Sedangkan qadar, ia adalah suatu sifat yang telah Allah tetapkan ada pada suatu benda. Misalnya sifat manusia adalah memiliki naluri ingin mempertahankan diri, seksual, dan naluri beragama. Missal yang lain adalah sifat dari api adalah membakar, maka sifat ini tidak akan pernah bisa hilang, kecuali yang member sifat (Allah) mencabutnya. Namun dalam qadar ini berbeda dengan qada’ tadi. Qadar (sifat yang melekat pada sesuatu), ini mengandung pertanggung jawaban atas penggunaannya. Misalnya, manusia memiliki nafsu dan ini adalah qadar/takdir, namun tidak kemudian dia bebas melampiaskan nafsu sesuka hatinya, dia akan diminta pertanggung jawaban apakah dia mengarahkan nalurinya tersebut pada yang halal ataukah ke yang haram. Begitu juga dengan sifat yang melekat pada api, maka manusia bertanggung jawab atas penggunaannya. Apakah api itu digunakan untuk kebaikan atau untuk kejahatan.http://assyafii.blogspot.com/2010/06/memahami-qada-dan-qadar.html

Tanya : Tentang perdebatan antara Adam as. dan Musa as. Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Pernah Adam dan Musa saling berdebat. Kata Musa: Wahai A…dam, kamu adalah nenek moyang kami, kamu telah mengecewakan harapan kami dan mengeluarkan kami dari surga. Adam menjawab: Kamu Musa, Allah telah memilihmu untuk diajak berbicara dengan kalam-Nya dan Allah telah menuliskan untukmu dengan tangan-Nya. Apakah kamu akan menyalahkan aku karena suatu perkara yang telah Allah tentukan empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku? Nabi saw. bersabda: Akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa, akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa. (Shahih Muslim No.4793).

Berarti Allah udah nentuin jalan cerita semuanya sebelum kita ada. Kyk skenario gtu dah.

Jawab : Yep.. Allah sudah menentukan semuanya skenario hidup manusia. Tapi…. tidak satu skenario. Ada banyak skenario, skenario A, B, C, D … normal ending, good ending, Happy ending, Bad ending… dst.Setiap pilihan yang dipilih manusia, itu akan menuntun kepada salah satu skenario, atau ending yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kita. Contoh sederhana, Allah menetapkan skenario :

A. Kita jadi pintar lalu kaya raya mati masuk surga

B. kita jadi bodoh lalu murtad, mati masuk neraka

nah, dalam hidup, kita ternyata memilih untuk tidak belajar.. otomatis pilihan yang diambil itu akan menuntun kita pada skenario B… skenario yang telah ditetapkan Allah… dan terus berantai.

kadang2 orang suka salah kaprah sama pemahaman Qadha Qadar-nya HTI, orang kira kalo HTI menganggap Allah tidak menciptakan perbuatan manusia, yang jelas bertentangan dengan “Allah menciptakan kalian dan Allah menciptakan perbuatan kalian” (QS As Shaffat :96)

Padahal sebetulnya Allah memang menciptakan semua perbuatan dan skenario manusia, tapi Allah memberi kebebasan pada manusia untuk memilihnya… tentu dengan segala embel2 konsekuensinya >:D

Perhatikan lagi ayat ini :

“Telah kami tunjukkan padanya dua jalan hidup (baik dan buruk)” (QS. Al-Balad:10)

“Maka Allah mengilhamkan pada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (QS. As-Syams:8)

Nah, coba saja pikir Jak pake Logika, sendainya seorang melakukan pencurian, lalu dia tangannya dipotong. Dan jika kita berpikir bahwa itu adalah takdir Allah, bukankah Allah telah mendzalimi umatnya dengan menentukan perbuatan dia bahwa dia harus mencuri dan harus dipotong tangannya?? jadi pemahaman yang benar adalah Allah menciptakan perbuatannya (mencuri atau tidak mencuri) dan si pelaku bebas untuk memilihnya… bukankah ini sesuai dengan ayat yang menyatakan bahwa setiap perbuatan yang dilakukan manusia akan dia pertanggungjawabkan di akhirat nanti??

Dengan demikian clear-lah masalah qada’ dan qadar. Semoga kaum muslimin yang membaca artikel ini tidak lagi bingung dalam memahami rukun iman yang ke enam ini. >:D

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s