Tabbaru

TABBARU

Tabbaru berasal dari kata tabarra’a yang artinya derma. Orang yang berderma disebut mutabarri’ (dermawan). Dalam Al-Qur’an, kata tabarru merujuk pada kata al-birr (kebajikan) sebagaimana firman Allah SWT, “Bukanlah menghadap wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan (memerdekakan) hamba sahayanya, mendirikan shalat dan orang-orang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 177). Akad tabarru’ (gratuitous contract) merupakan bentuk transaksi atau perjanjian kontrak yang bersifat nir-laba (not-for profit transaction) sehingga tidak boleh digunakan untuk tujuan komersial atau bisnis tetapi semata-mata untuk tujuan tolong-menolong dalam rangka kebaikan. Pihak yang meniatkan tabarru’ tidak boleh mensyaratkan imbalan apapun. Bahkan menurut Dr. Yusuf Qardhawi, dana tabarru’ ini haram untuk ditarik kembali karena dapat disamakan dengan hibah.

Implementasi akad takafuli dan tabarru’ dalam sistem asuransi syariah direalisasikan dalam bentuk pembagian setoran premi menjadi dua. Untuk produk yang mengandung unsur tabungan (saving), maka premi yang dibayarkan akan dibagi ke dalam rekening dana peserta dan satunya lagi rekening tabarru’. Sedangkan untuk produk yang tidak mengandung unsur tabungan (non saving), setiap premi yang dibayar akan di

masukkan seluruhnya ke dalam rekening tabarru’. Keberadaan rekening tabarru’ menjadi sangat penting untuk menjawab pertanyaan seputar ketidakjelasan (ke-gharar-an) asuransi dari sisi pembayaran klaim. Misalnya, seorang peserta mengambil paket asuransi jiwa dengan masa pertanggungan 10 tahun dengan manfaat 10 juta rupiah. Bila ia ditakdirkan meninggal dunia di tahun ke-empat dan baru sempat membayar sebesar 4 juta maka ahli waris akan menerima sejumlah penuh 10 juta. Pertanyaannya, sisa pembayaran sebesar 6 juta diperoleh dari mana. Disinilah kemudian timbul gharar tadi sehingga diperlukan mekanisme khusus untuk menghapus hal itu, yaitu penyediaan dana khusus untuk pembayaran klaim (yang pada hakekatnya untuk tujuan tolong-menolong) berupa rekening tabarru’.

Selanjutnya, dana yang terkumpul dari peserta (shahibul maal) akan diinvestasikan oleh pengelola (mudharib) ke dalam instrumen-instumen investasi yang tidak bertentangan dengan syariat. Apabila dari hasil investasi diperolah keuntungan (profit), maka setelah dikurangi beban-beban asuransi, keuntungan tadi akan dibagi antara shahibul maal (peserta) dan mudharib (pengelola) berdasarkan akad mudharabah ( bagi hasil ) dengan rasio (nisbah) yang telah disepakati di muka. Wallahu a’lam.

source: http://pojokasuransi.com

Advertisements

Pekerjaan ataukah Keluarga?

zwani.com myspace graphic comments

Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. “Oh, maafkan saya” adalah reaksi saya.. Ia berkata, “Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda.” Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.. Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. “Minggir,” kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya. Continue reading

“DIA YANG BERSEDIA BELAJAR”

Suatu saat dari ruang kantor sebuah kantor terdengar meeting antara seorang GM HRD dengan para staffnya yang akan melakukan perekrutan karyawan baru.

” Satu syarat yang harus diutamakan adalah pengalaman dan pendidikan, tidak akan bisa seseorang mengerjakan tugas tanpa ia berpengalaman dan berpendidikan”. ujar sang GM HRD.

Pernyataan sang GM tidaklah salah, berdasarkan survey secara statistik diantara 100% lowongan pekerjaan di sebuah harian nasional yang memuat lowongan kerja pada hari Sabtu dan Minggu, maka 93% selalu mempersyaratkan pengalaman dan berpendidikan. Dengan dasar itulah Sang Recruiter yang jebolan universitas ternama turun langsung untuk melakukan wawancara, test untuk menyeleksi calon karyawan baru.
Satu orang yang masuk. Itupun secara Pendidikan memenuhi syarat namun pengalamannya tidak. Nanti ada lagi yang berpengalaman namun pendidikannya tidak memenuhi syarat. Begitu seterusnya hingga wawancara orang yang ke dua ratus lima puluh, tak satupun yang memenuhi syarat untuk posisi itu. Kembalilah Sang Recruiter bertemu Sang GM HRD di ruang kerjanya.

“Saya kira ada yang salah dengan persyaratan jabatan ini”. Kata Sang Recruiter sembari garuk-garuk kepala dengan dahi yang di tekuk sehingga membentuk huruf W….waduh ini mirip dengan grafik Wnya Test Intelegenz Structure Test (IST). “Maaf Pak, yang mana yang salah, semua itukan sesuatu yang standar-standar aja…..Nih lihat dia menunjukkan sebuah surat kabar nasional yang menunjukkan pendidikan dan pengalaman”. Elak Sang GM HRD, sambil menguatkan hasil survey di atas.

Barangkali begini, apakah KPK (Komite Pemberantasan Korupsi) yang akan menangkap koruptor harus terlebih dahulu menjadi koruptor untuk mengetahui modus operandi sang koruptor (apakah temennya median atau standard deviasi). Ataukah seorang pilot harus pernah menjatuhkan pesawatnya untuk bisa mengetahui rahasia, tips dan trick dalam menerbangkan pesawat dengan baik dan tidak mungkin pesawatnya jatuh?…(ya… mungkin sudah alm. duluan), Apakah masinis dan pengatur perjalanan kereta api harus menabrakkan dua buah rangkaian kereta api yang tengah melaju berlawanan untuk mengetahui ilmu manajemen pengaturan kereta api (Waduh sering tabrakan Kreta Api)”? pertanyaan cerdik sang recruitermembuat GM HRDnya ndak berkutik.

“Hmmmmmmmmmm…………..lalu……….?” “Meskipun kita akui pengalaman sebagai hal yang penting. Tetapi bukanlah itu yang terpenting. Pengalaman adalah langkah pertama.
Hal selanjutnya adalah memperhatikan potensi seseorang. Bila seseorang tidak perpengalaman tetapi ia memiliki potensi maka kita harus terima dia”. Ujar sang recruiter.

Sang GM Hening sejenak. “Dalam hidup pun seperti itu. Pengalaman penting. Namun tidak mesti pengalaman diri kita sendiri. Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain. Mengambil pelajaran pengalaman dari orang lain merupakan jalan untuk memperoleh kesuksesan. Jadi, ubah kriterianya menjadi: Dia yang bersedia belajar”. Ujar Sang GM HRD

From :
Zeno Yonadi
HR Development
PT Harita Prima Abadi Mineral
Kantor Pusat Jakarta

Gak Narsis Gak Exist…

Agustinus Zeno Yonadi

zwani.com myspace graphic comments

Gak Narsis Gak Eksis

This morning someone’s ringing my bell by sending sms to me “Sebetulnya gw juga bukan kaum narsis. Tapi gw pikir2 lagi, gak narsis gak eksis, hahaha”. Itu sms datangnya dari kawan karib, temen maen di SMP & SMA. Kok gw tiba2 merasa “ketonjok” banget dengan kata2nya. Sembari menarik nafas panjang, on the way to office in my lovely buss, I said to my self “udahlah.. saya jangan resistan.” Continue reading

Nenek Yang Kaya Raya

Seorang Nenek yang ditemani seorang pengacaranya bergegas menuju sebuah Bank dengan menenteng sebuah tas besar yang berisi uang yang sangat banyak. Kebetulan Nenek itu langsung disambut dengan ramah oleh Pimpinan Kepala Cabang Bank tersebut, Namanya adalah Pak Jeno dan seraya berkata “Selamat Sore Nek, ada yang bisa saya bantu?” dengan sedikit merasa berat atas tasnya tersebut, nenek itu menjawab “Oh iya Pak, Terima Kasih… Saya hendak Menabungkan Uang sebanyak Rp.200 Juta yang ada didalam tas ini!”. Kemudian dengan sedikit kaget Bapak itu bertanya pada Nenek tersebut, “Nenek dapat uang sebegitu banyak, darimana Nek? “Nenek itu menjawab “Oh, ini Pak,.. Saya habis menang taruhan dengan seseorang.” Pak Jeno semakin penasaran dengan jawaban Nenek tersebut dan kembali bertanya ” Taruhan Apa Sih Nek?” Dengan rasa bangga Nenek itu menjawab “Saya Menang taruhan karena saya dapat membuktikan bahwa kedua testis laki-laki itu bentuknya segitiga…” Dengan terperangah, Pak Jeno Kaget bikan kepalang dan berkata “Da..da..dan Nenek Menang?” Nenek itu menjawab ” Ya,.. saya menang,”.. Pak Jeno semakin penasaran dan menantang Nenek tersebut untuk taruhan dengannya dan berkata “Wah,.. kalau begitu, Bagaimana kalau Nenek taruhan dengan saya… Saya bertaruh Rp.300 juta dan akan saya buktikan bahwa testis seorang laki-laki itu bentuknya bulat atau setidak-tidaknya lonjong…. Bagaimana Nek,.. Berani terima tantangan saya???” Dengan senyum menawan dan Dengan yakinnya Nenek itu menjawab “Baik, saya terima tantangannya…” Pak Jeno-pun Berkata “Baik, nanti jam 5 sore Nenek Ke Bank ini lagi,.. karena saya harus melayani para nasabah terlebih dahulu sampai Jam 5 Sore.. Nenek itu menjawab “Baik, saya pulang dulu kerumah dan mau bincang-bincang dengan pengacara saya yang dari tadi menunggu diruang tunggu..”

Setelah waktu menunjukkan pukul 5 sore, Nenek itu dengan ditemani oleh pengacaranya mendatangi kembali tempat Bank dimana ia menabung tadi. Dan bertemu dengan Pak Jeno yang sudah menunggu diruangannya…

Silahkan Masuk Nek,… Pak Jeno dengan rasa percaya dirinya yang tinggi berdiri diatas meja seraya berkata ” Baik Nek,. saya sudah menyiapkan uang sebesar Rp.300 juta sebagaimana telah kita perjanjikan. Dan saat ini,… sekarang ini, akan saya buktikan bahwa testis laki-laki itu bentuknya tidak segitiga”… Nenek itu-pun menjawab “Baik… silahkan buktikan…..”. Pak Jeno yang sedikit tergesa-gesa… segera membuka celana panjang,… celana pendek,… celana dalam,,,.. dan akhirnya…. Pak Jeno Berkata “Nah,… Nenek Lihat sendiri khan,… bahwa testis saya bentuknya tidak segitiga???”…. Nenek itu-pun segera menghampiri Pak Jeno, memegang dan meremas-remas testis Pak Jeno dan menjawab dengan lirih…”OOooww, ya..ya..ya..betul juga ya.., ternyata testis laki-laki itu bentuknya tidaklah segitiga.. Pak Jeno Berkata “Berarti saya menang donk Nek..???” Nenek menjawab “Ya… anda telah menang Rp.300 Juta, silahkan ambil uangnya dikursi samping Pak Jeno… Wah,.. dengan senangnya Pak Jeno Mengambil uang hasil menang taruhan tersebut…

Akan tetapi Pak Jeno agak sedikit kaget dan terheran-heran…sambil melihat dipojok ruangan, dimana terdapat pengacara Si Nenek sedang menjedot-jedotkan kepalanya ditembok… Pak Jeno-pun bertanya kepada Nenek itu “Nek,.. itu dipojok ruangan, saya melihat pengacara Nenek sedang menjedot-jedotkan kepalanya ditembok,.. ada apa ya Nek????”  Nenek itu-pun menjawab “OOOooh,.. itu… Sebelum ke Bank ini, saya mengadakan taruhan dengan Pengacara saya…. Bahwa andai saya bisa memegang dan meremas-remas testis Bapak Jeno selaku Pimpinan di Bank Ini, saya akan memenangkan Uang Taruhan sebesar Rp.400 juta… 😀

By agung Posted in ALPHA